Di Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Ciamis misalnya, beberapa korban yang tinggal di tenda-tenda darurat mengalami shock. “Warga shock karena gempa yang telah menghancurkan rumah-rumah mereka,” kata tokoh masyarakat Kecamatan Mangunjaya, Syuhada, Selasa (8/9). Ia mengatakan banyak warga di tempat pengungsian yang melamun sendirian, bahkan ada juga yang tertawa tanpa sebab sampai menangis, sehingga menjadi perhatian warga korban gempa lainnya di pengungsian. Selain penyakit, para korban gempa di Jawa Barat kini dilanda trauma luar biasa, bahkan ada beberapa orang yang mengalami gila mendadak.
Warga mencoba memberi perhatian besar dan motivasi kepada warga yang mengalami depresi akibat gempa bumi Tasikmalaya yang meluluhlantakan kawasan Kecamatan Mangunjaya. “Warga kadang termenung dan kadang ada yang tertawa, oleh warga lainnya suka diajak ngobrol, berharap supaya tidak mengingat-ingat lagi kejadian gempa,” katanya Menurutnya warga yang termenung itu memikirkan ekonomi, rumah yang rusak, serta bingung melanjutkan hidup dengan kondisi rumah hancur serta barang-barang berharga yang rusak akibat tertimpa bangunan rumah.
Menangani masalah warga shock, diharapkan pemerintah segera mengerahkan tim kesehatan kejiwaan di tempat pengungsian agar para korban bisa tenang dan merasa diperhatikan. Selain itu korban gempa membutuhkan hiburan dan permainan yang membangun kreativitas, dengan tujuaan menghilangkan kejenuhan yang berpotensi menyebabkan timbulnya stres dan trauma. Di kawasan Kecamatan Mangunjaya, persentase kerusakan 80 persen rumah hancur dan menelan dua orang korban jiwa.
Sementara itu, para korban gempa di Desa Maroko dan Desa Segara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat hingga kemarin masih bertahan di hutan karena trauma dan takut terjadinya tsunami. “Mereka masih bertahan di hutan karena masih takut dan trauma dengan gempa dan tsunami,” kata Kepala Pusat Pengendalian Krisis (PPK) Depkes dr Rustam S Pakaya MPH, Selasa (8/9).
Atas kondisi tersebut, katanya, staf PPK Depkes yang baru pulang dari Garut diperintahkan menuju ke wilayah tersebut karena ada lokasi yang belum tersentuh, yakni di Desa Maroko dan Desa Segara. Untuk menuju ke lokasi itu, kata Rustam, dibutuhkan waktu sekitar enam jam dari Kota Garut.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sri Woro Harijono beberapa saat setelah gempa pada Rabu (2/9) lalu menyatakan gempa besar yang mengguncang sebagian wilayah Jabar itu sempat mengakibatkan gelombang laut tsunami setinggi satu meter di pantai selatan di Pameungpeuk, Garut. Tapi peringatan itu kemudian dibatalkan. Namun warga masih terngiang dengan peringatan itu sehingga trauma.
Staf PPK Depkes M Royan yang ditugaskan lagi ke Garut saat dihubungi menjelaskan bahwa ia sudah tiba di Kecamatan Cibalong, yang melintasi Desa Maroko dan Desa Segara. “Di lintasan Desa Maroko memang mengalami kerusakan parah, dan korban yang mengungsi juga masih memerlukan bantuan, konsentrasi pengungsi lebih banyak di Desa Segara, yakni lebih kurang 300-an pengungsi,” katanya.
Dua desa tersebut, kata dia, merupakan kawasan hutan di perbukitan yang berada di atas pantai. Warga hingga kini bertahan di hutan dengan tenda-tenda seadanya dari plastik, karena masih trauma dan takut akan adanya gempa susulan serta tsunami. Berdasarkan data di Kecamatan Cibalong, jumlah pengungsi korban gempa tercatat 1.685 orang tersebar di empat titik, termasuk di Desa Maroko dan Segara.
210.292 Pengungsi
“Senin kemarin masih 186.076 orang dan hari ini bertambah signifikan menjadi 210.292 orang. Kita tetap antisipasi dan melayani mereka,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar, Denny Juanda, di Bandung, Selasa. Jumlah pengungsi korban gempa di Jabar terus membengkak setiap harinya, dan pada Selasa (8/9) tercatat 210.292 orang.
Salah satu penyebab makin membludaknya jumlah pengungsi, kata Denny, karena kekhawatiran terjadi gempa susulan sehingga sebagian mereka memilih tinggal di tenda-tenda pengungsian dibanding kembali ke rumah. Namun di lain pihak mereka tinggal di tenda karena khawatir tidak terdata sebagai pengungsi dan akan mendapatkan bantuan.
Data sementara korban jiwa akibat gempa di Jabar hingga Selasa sore sebanyak 74 orang meninggal dunia, 34 orang hilang, 82.593 orang mengungsi, 54.000 lebih rumah rusak berat dan 118.000 lebih rumah rusak ringan. Kemudian 2.200 lebih sekolah rusak berat, 17 pondok pesantren rusak berat, dan 1.700 lebih masjid rusak berat.
Sementara upaya pencarian korban yang tertimbul longsor bersamaan gempa bumi akan dihentikan terhitung mulai Kamis(10/9) besok, setelah upaya pencarian dilakukan maksimal sejak hari pertama gempa, Rabu(2/9) petang. Penghentian pencarian korban disampaikan bersama Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary dan Kapolda Jabar Irjen Pol Timur P usai pertemuan dan musyawarah dengan tokoh masyarakat dan keluarga korban di Desa Pamoyanan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Selasa (8/9).
Pangdam dan Kapolda datang sekaligus untuk memberikan dukungan moral terhadap personil TNI dan Polri yang terlibat pencarian korban sejak sepekan lalu. Kedua komandan juga menyerahkan bantuan satu truk berisi makanan dan logistik tambahan bagi personil di Posko pencarian korban gempa dan longsor di Desa Pamoyanan.
Warga mencoba memberi perhatian besar dan motivasi kepada warga yang mengalami depresi akibat gempa bumi Tasikmalaya yang meluluhlantakan kawasan Kecamatan Mangunjaya. “Warga kadang termenung dan kadang ada yang tertawa, oleh warga lainnya suka diajak ngobrol, berharap supaya tidak mengingat-ingat lagi kejadian gempa,” katanya Menurutnya warga yang termenung itu memikirkan ekonomi, rumah yang rusak, serta bingung melanjutkan hidup dengan kondisi rumah hancur serta barang-barang berharga yang rusak akibat tertimpa bangunan rumah.
Menangani masalah warga shock, diharapkan pemerintah segera mengerahkan tim kesehatan kejiwaan di tempat pengungsian agar para korban bisa tenang dan merasa diperhatikan. Selain itu korban gempa membutuhkan hiburan dan permainan yang membangun kreativitas, dengan tujuaan menghilangkan kejenuhan yang berpotensi menyebabkan timbulnya stres dan trauma. Di kawasan Kecamatan Mangunjaya, persentase kerusakan 80 persen rumah hancur dan menelan dua orang korban jiwa.
Sementara itu, para korban gempa di Desa Maroko dan Desa Segara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat hingga kemarin masih bertahan di hutan karena trauma dan takut terjadinya tsunami. “Mereka masih bertahan di hutan karena masih takut dan trauma dengan gempa dan tsunami,” kata Kepala Pusat Pengendalian Krisis (PPK) Depkes dr Rustam S Pakaya MPH, Selasa (8/9).
Atas kondisi tersebut, katanya, staf PPK Depkes yang baru pulang dari Garut diperintahkan menuju ke wilayah tersebut karena ada lokasi yang belum tersentuh, yakni di Desa Maroko dan Desa Segara. Untuk menuju ke lokasi itu, kata Rustam, dibutuhkan waktu sekitar enam jam dari Kota Garut.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sri Woro Harijono beberapa saat setelah gempa pada Rabu (2/9) lalu menyatakan gempa besar yang mengguncang sebagian wilayah Jabar itu sempat mengakibatkan gelombang laut tsunami setinggi satu meter di pantai selatan di Pameungpeuk, Garut. Tapi peringatan itu kemudian dibatalkan. Namun warga masih terngiang dengan peringatan itu sehingga trauma.
Staf PPK Depkes M Royan yang ditugaskan lagi ke Garut saat dihubungi menjelaskan bahwa ia sudah tiba di Kecamatan Cibalong, yang melintasi Desa Maroko dan Desa Segara. “Di lintasan Desa Maroko memang mengalami kerusakan parah, dan korban yang mengungsi juga masih memerlukan bantuan, konsentrasi pengungsi lebih banyak di Desa Segara, yakni lebih kurang 300-an pengungsi,” katanya.
Dua desa tersebut, kata dia, merupakan kawasan hutan di perbukitan yang berada di atas pantai. Warga hingga kini bertahan di hutan dengan tenda-tenda seadanya dari plastik, karena masih trauma dan takut akan adanya gempa susulan serta tsunami. Berdasarkan data di Kecamatan Cibalong, jumlah pengungsi korban gempa tercatat 1.685 orang tersebar di empat titik, termasuk di Desa Maroko dan Segara.
210.292 Pengungsi
“Senin kemarin masih 186.076 orang dan hari ini bertambah signifikan menjadi 210.292 orang. Kita tetap antisipasi dan melayani mereka,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jabar, Denny Juanda, di Bandung, Selasa. Jumlah pengungsi korban gempa di Jabar terus membengkak setiap harinya, dan pada Selasa (8/9) tercatat 210.292 orang.
Salah satu penyebab makin membludaknya jumlah pengungsi, kata Denny, karena kekhawatiran terjadi gempa susulan sehingga sebagian mereka memilih tinggal di tenda-tenda pengungsian dibanding kembali ke rumah. Namun di lain pihak mereka tinggal di tenda karena khawatir tidak terdata sebagai pengungsi dan akan mendapatkan bantuan.
Data sementara korban jiwa akibat gempa di Jabar hingga Selasa sore sebanyak 74 orang meninggal dunia, 34 orang hilang, 82.593 orang mengungsi, 54.000 lebih rumah rusak berat dan 118.000 lebih rumah rusak ringan. Kemudian 2.200 lebih sekolah rusak berat, 17 pondok pesantren rusak berat, dan 1.700 lebih masjid rusak berat.
Sementara upaya pencarian korban yang tertimbul longsor bersamaan gempa bumi akan dihentikan terhitung mulai Kamis(10/9) besok, setelah upaya pencarian dilakukan maksimal sejak hari pertama gempa, Rabu(2/9) petang. Penghentian pencarian korban disampaikan bersama Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Rasyid Qurnuen Aquary dan Kapolda Jabar Irjen Pol Timur P usai pertemuan dan musyawarah dengan tokoh masyarakat dan keluarga korban di Desa Pamoyanan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Selasa (8/9).
Pangdam dan Kapolda datang sekaligus untuk memberikan dukungan moral terhadap personil TNI dan Polri yang terlibat pencarian korban sejak sepekan lalu. Kedua komandan juga menyerahkan bantuan satu truk berisi makanan dan logistik tambahan bagi personil di Posko pencarian korban gempa dan longsor di Desa Pamoyanan.
